Seorang juruterbang Malaysia menyerukan peningkatan pengawasan keselamatan di lapangan terbang dengan menempatkan unit K9 terlatih di area operasi. Usulan ini disampaikan menyusul insiden yang memicu pertanyaan tentang bagaimana bagasi terdaftar bisa lolos dari sistem saringan di bandar udara.

Mohd Ezairol Rezan Zainol, juruterbang yang juga mantan jurulatih penerbangan PDRM, mengatakan beberapa langkah perlu diperkuat agar risiko barang mencurigakan tidak melewati pemeriksaan dan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan. Rekomendasinya termasuk penempatan anggota keselamatan yang bekerjasama dengan Unit Anjing Pengesan (K9).
Sorotan insiden penangkapan dan pertanyaan keselamatan
Pekan lalu, media melaporkan seorang juruterbang Malaysia Airlines berusia 39 tahun ditahan pihak berkuasa Indonesia di Terminal 3, Lapangan Terbang bangsa Soekarno-Hatta atas tuduhan menyeludup 25 kilogram dadah. Kejadian ini memicu perbincangan tentang celah dalam prosedur saringan bagasi, khususnya untuk bagasi yang telah didaftarkan di kaunter.
Mengulas rekaman video yang beredar, Mohd Ezairol menilai ada persoalan krusial mengenai bagaimana sebuah bagasi yang telah didaftarkan dapat melewati pemeriksaan. “Memang tak dapat kesan sebab ikut video terkini, dia dah check in beg tersebut kat kaunter di luar. Isunya sekarang bagaimana beg bagasi yang di daftar masuk di luar semasa mendaftar di kaunter boleh melepasi sistem saringan.” Ia menegaskan bahwa biasanya semua bagasi terdaftar mesti dipindai sebelum dimuat ke dalam kargo pesawat.
Sistem saringan bagasi dan pemeriksaan fisik
Menurut Mohd Ezairol, tujuan utama sistem saringan bagasi adalah untuk mendeteksi bahan berbahaya sehingga penerbangan menjadi lebih aman. Ia menjelaskan bahwa mekanisme tersebut dirancang untuk menemukan ancaman seperti bahan letupan, senjata, atau barang yang berbahaya bagi keselamatan penerbangan. “Sistem saringan bagasi diwujudkan bagi memastikan keselamatan penerbangan dengan mengesan bahan letupan, senjata atau barangan berbahaya.”
Proses pemeriksaan umumnya melibatkan pemindaian sinar-X di belakang kaunter daftar masuk sebelum bagasi dimuat. Jika hasil pemindaian menunjukkan tanda-tanda mencurigakan, petugas akan membuka bagasi untuk pemeriksaan manual. “Bagasi juga akan diperiksa secara fizikal yang mana beg akan dibuka secara manual sekiranya imbasan Sinar-X menunjukkan objek yang mencurigakan.”
Peran Unit Anjing Pengesan (K9)
Mohd Ezairol menekankan bahwa penggunaan anjing pengesan dapat menjadi pelengkap penting dalam upaya penyaringan. Ia menyebutkan kemampuan anjing terlatih untuk mendeteksi berbagai jenis benda terlarang. “Selain itu, penggunaan anjing pengesan yang mana haiwan terlatih kadangkala digunakan untuk menghidu dadah, produk pertanian, atau bahan letupan,” ujarnya.
Selain mendeteksi ancaman terhadap keselamatan penerbangan, pemeriksaan bagasi juga berperan dalam mencegah penyeludupan barang terlarang. “Selain itu, ia membantu mencegah penyeludupan dadah, barangan kontraband dan mata wang yang menyalahi undang-undang,” kata Mohd Ezairol, menyoroti fungsi ganda sistem saringan bagi aspek keselamatan dan kepatuhan hukum. Ia juga menyinggung peran pemeriksaan dalam aspek kesehatan dan biosekuriti, lain untuk mendeteksi tumbuhan, haiwan, atau produk makanan yang dilarang masuk ke suatu negara.
Lebih jauh, Mohd Ezairol mengingatkan bahwa penguatan prosedur dan integrasi unit K9 bersama petugas keamanan dapat mengurangi peluang barang mencurigakan lolos dari pemeriksaan. Ia juga menginformasikan keberhasilan penguatkuasaan yang menunjukkan penangkapan beberapa kasus besar: pihak berkuasa di lapangan turut melaporkan rampasan dadah seberat 1.35 tan di Lapangan Terbang bangsa Kuala Lumpur (KLIA) untuk periode Januari hingga Julai tahun ini.
Permintaan untuk memperbaiki sistem saringan dan mempertimbangkan penempatan unit K9 terlatih mencerminkan upaya mencari solusi untuk menyempurnakan keamanan bandar udara. Penerapan langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperkecil risiko pelanggaran dan menjadikan setiap penerbangan lebih aman bagi penumpang dan kru.
