Transformasi Uni Emirat Arab menjadi tema utama tulisan kolumnis Abdul Hamid Ahmad, yang mengenang peralihan hidup dari lingkungan pasir menuju kota-kota modern. Pengalaman awalnya saat tiba di London pada awal 1970-an menjadi titik tolak pemahamannya tentang jarak besar yang harus ditempuh oleh negeri yang baru merdeka itu.

Perjumpaan dengan trotoar, lampu listrik, telepon, dan transportasi massal di luar negeri membuka mata generasi yang tumbuh dengan tenda, perahu, dan perjalanan dengan unta. Bagi mereka, setiap benda baru bukan sekadar alat; ia menandai perubahan sosial dan peluang untuk membangun bangsa.
Awal Kekaguman di London
Saat menjejakkan kaki di Heathrow, penulis merasa seperti masuk ke dunia lain. Hal-hal sederhana di kota besar—seperti trotoar yang rata, bangunan teratur, dan lampu yang menyala dengan sakelar—membuatnya terkesima. Pengalaman itu bukan sekadar kekaguman estetik, melainkan pemicu tanya: bagaimana sebuah masyarakat bisa menyusun kota dan sistem yang seorganis dan seefisien itu?
Kepergian untuk melanjutkan studi ke luar negeri menjadi lebih dari perjalanan akademis. Mahasiswa-mahasiswa dari Uni Emirat Arab tidak hanya belajar di ruang kelas, mereka juga melihat langsung bagaimana institusi, transportasi, dan infrastruktur bekerja. Kota asing berperan sebagai buku teks hidup yang mengajarkan tata kelola, perencanaan, dan manajemen publik.
Pembangunan yang Berpusat pada Manusia
Perubahan di tanah kelahiran tidak datang secara kebetulan. Setelah pembentukan Uni Emirat Arab, negara fokus membangun jalan, rumah sakit, sekolah, bandara, dan birokrasi pemerintahan. Namun, yang paling menentukan menurut narasi ini adalah kebijakan yang menempatkan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai prioritas utama.
Program beasiswa yang mengirimkan generasi muda ke universitas internasional bukan sekadar untuk gelar. Mereka kembali membawa pengetahuan, keterampilan, dan cara berpikir yang membantu mempercepat pembangunan nasional. Dari pengalaman tersebut tumbuh kemampuan lokal untuk mengelola proyek besar dan mengoperasikan institusi modern.
Dari Kehidupan Berpasir ke Realitas Global
Kenangan tentang jalan berlumpur yang harus disiram untuk mengurangi debu, generator listrik yang hanya hidup beberapa jam, serta kegembiraan atas hadirnya telepon atau televisi menggambarkan betapa besar jurang perubahan yang dilewati. Dalam beberapa dekade, masyarakat beralih dari tenda dan rumah dari anyaman hingga hunian urban serta jaringan transportasi yang menghubungkan negara dengan seluruh dunia.
Apa yang paling mengesankan bagi penulis bukanlah gedung-gedung tinggi atau bandara megah semata, melainkan transformasi individu. Laki-laki dan perempuan yang dulu mengandalkan unta atau Land Rover kini menempuh studi dan bekerja di institusi kelas dunia. Menurutnya, ukuran keberhasilan sebuah bangsa seharusnya dilihat dari apa yang mampu dilakukan terhadap warganya: pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang untuk berkembang.
Pada akhirnya, kejutan pertama terhadap trotoar London berubah menjadi simbol momentum—saat seseorang menyadari bahwa batas dunia mereka bisa diperlebar. Proses panjang yang dimulai dengan langkah sederhana ternyata membuahkan perubahan yang dalam waktu singkat menyaingi apa yang bagi banyak negara memakan waktu berabad-abad.
Penulis: Abdul Hamid Ahmad, kolumnis asal Uni Emirat Arab.
