Suasana kampanye Pilihan Raya Negeri (PRN) Negeri Sembilan menimbulkan kegelisahan di kalangan warga setempat karena isu campur tangan DAP dinilai mengganggu ketenangan politik lokal. Keprihatinan ini muncul bersamaan dengan dinamika baru di lapangan, yakni adanya kerja sama tidak lazim petugas partai berbeda.

Fenomena tersebut dikaitkan dengan terjalinnya hubungan operasional petugas PAS dan Umno di beberapa kawasan, sesuatu yang menurut pengamat lokal belum pernah terlihat dalam gelaran kampanye sebelumnya. Perpaduan itu menjadi latar yang membuat sebagian masyarakat merasa situasi politik menjadi kurang tenteram.
Kerjasama PAS dan Umno jadi sorotan
Dalam kampanye kali ini, sejumlah pengamat dan warga melihat adanya aktivitas bersama PAS dan Umno, yang selama ini biasanya tampil sebagai entitas terpisah pada arena politik. Perpaduan tenaga di lapangan tersebut disorot karena mengubah pola tradisional aliansi dan persaingan di tingkat lokal, sehingga menimbulkan pertanyaan di kalangan pemilih mengenai implikasinya terhadap proses demokrasi setempat.
Suara dari akar rumput
Ketua PAS Cawangan Gedong Lalang 162 Ampangan, Ustaz Hasamudin Hasan, 65, mencatat bahwa dukungan dari anggota Umno termasuk pemimpin bahagian dan cawangan memberi semangat kepada pihaknya dalam menghadapi proses PRN. Pernyataan ini menggambarkan ada interaksi langsung yang memperkuat kehadiran kedua pihak di medan politik lokal.
Bagi sebagian warga, keterlibatan lintas partai tersebut terasa mengagetkan dan menimbulkan rasa was-was, terutama ketika isu campur tangan pihak lain—disebut-sebut sebagai campur tangan DAP—memasuki perbincangan publik. Ketidakpastian mengenai maksud dan dampak kerja sama ini menjadi bahan perdebatan di warung kopi, majelis, dan pertemuan komunitas.
Pengaruh terhadap suasana kampanye
Gabungan aktivitas petugas dari partai berbeda berimbas pada perubahan ritme kampanye: rute ceramah, pembagian tugas, dan pendekatan kepada pemilih bisa mengalami penyesuaian. Perubahan semacam ini, sekalipun bersifat taktis, turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap independensi proses kampanye dan keseimbangan persaingan politik.
Sementara itu, rasa resah yang terkait campur tangan DAP muncul tidak hanya dari satu pihak; kekhawatiran itu tersebar di kalangan pemilih yang menginginkan proses politik berjalan tanpa tekanan eksternal. Sentimen ini memperlihatkan betapa sensitifnya suasana politik lokal ketika pola aliansi berubah dan isu intervensi pihak luar dikaitkan dengan praktik kampanye.
Penting bagi aktor politik dan pihak terkait untuk menjelaskan motif dan bentuk kerja sama yang terjadi agar publik tidak mudah tersulut kecurigaan. Transparansi dan komunikasi menjadi kunci untuk meredam keresahan warga sekaligus menjaga legitimasi proses demokrasi pada PRN.
Di tengah suasana yang dianggap belum pernah terjadi ini, masyarakat berharap agar kontestasi berlangsung adil dan fokus pada isu-isu yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Tekanan dari tuduhan campur tangan dan perubahan pola kampanye menegaskan pentingnya dialog terbuka partai, pemilih, dan pemangku kepentingan lokal agar ketenteraman komunitas tetap terjaga.
