Destinasi BookTok kini menjadi istilah yang lazim untuk menunjuk tempat-tempat yang tiba-tiba populer karena hubungan mereka dengan novel dan tren bacaan. Di 2026, beberapa lokasi global mendapat perhatian baru karena terkait dengan cerita fiksi yang viral dan komunitas pembaca daring.

Perhatian itu menjangkau beragam lanskap: dari Jepang bertema samurai, alam luas yang sering menjadi latar novel-novel besar di Kanada, lorong-lorong sempit Venesia, gedung pencakar langit New York, hingga moor atau padang luas di Skotlandia. Perpaduan saga young adult, kajian ulang karya klasik, dan gelombang tagar #BookTok membuat rute-rute tersebut tampak seperti dirancang untuk pembaca yang ingin melangkah ke dalam halaman cerita.
Destinasi yang semakin sering disebut pembaca
Beberapa lokasi menonjol sebagai ‘tujuan literer’ karena kemunculannya berulang dalam rekomendasi bacaan dan unggahan media sosial. Gambaran singkat tentang jenis destinasi yang ramai diperbincangkan:
- Jepang yang meminjam aura samurai dan setting historis, cocok bagi pembaca yang tertarik dengan kisah berlatar tradisi dan kehormatan.
- Kanada, dengan lanskap alam yang luas dan sering menjadi panggung untuk novel-novel bertema alam dan perjalanan batin.
- Venesia, di mana lorong dan kanalnya dihubungkan dengan suasana misteri dan romansa dalam berbagai karya fiksi.
- New York, yang identik dengan siluet pencakar langit dan dinamika urban—sering muncul sebagai latar cerita modern dan kosmopolitan.
- Tanah moor di Skotlandia yang memberikan nuansa luas, sepi, dan dramatis sebagaimana digambarkan dalam sejumlah karya sastra klasik yang kerap direvisi oleh pembaca masa kini.
Peran tren baca dan #BookTok
Platform seperti #BookTok dan kembalinya minat pada saga young adult dan versi baru dari karya klasik menjadi pendorong utama. Konten singkat yang menyorot adegan, kutipan, atau tempat dalam novel bisa mengubah lokasi yang tadinya biasa saja menjadi destinasi yang diincar para pembaca. Hasilnya, rute perjalanan dan pengalaman lokal yang terhubung dengan cerita fiksi makin dicari, baik untuk menambah daftar bacaan maupun memperkaya konten media sosial.
Apa yang dicari pelancong literer
Wisatawan yang tertarik pada rute-rute ini umumnya mencari pengalaman yang menghubungkan mereka dengan tokoh dan adegan dalam buku: berjalan di jalan yang sama, mengunjungi bangunan atau lanskap yang menginspirasi, dan menemukan sudut yang selama ini hanya dibayangkan saat membaca. Selain itu, perjalanan semacam ini juga menjadi cara untuk membangun ‘PAL’—pile of books yang ingin dibaca—serta mengisi feed dengan visual yang selaras dengan narasi favorit.
Catatan bagi calon pengunjung
Bagi yang berniat mengikuti jejak fiksi, penting untuk merencanakan kunjungan dengan mempertimbangkan musim, aksesibilitas lokasi, dan etika berkunjung. Tidak semua tempat dalam cerita bersifat komersial atau dirancang untuk kunjungan turis; beberapa adalah kawasan sensitif atau habitat alam yang perlu dihormati. Menggabungkan kunjungan dengan membaca latar dan konteks cerita dapat memperkaya pengalaman tanpa merusak karakter lokal.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana bacaan dan media sosial bisa membentuk pilihan perjalanan di era modern. Dengan campuran nostalgia sastra, minat pada judul-judul muda, dan sorotan platform daring, sejumlah tujuan kini meraih gelombang perhatian baru—mengundang pembaca untuk benar-benar ‘melangkah’ ke dalam cerita favorit mereka.
