Posted in

Maszlee Rasakan ‘Melambung’ di jalan Tebrau Ulu Tiram

Ilustrasi jalan tebrau ulu tiram untuk artikel Maszlee Rasakan 'Melambung' di jalan Tebrau Ulu Tiram
Maszlee mengendarai MyVi dari Tebrau ke Ulu Tiram untuk merasakan kondisi jalan Tebrau Ulu Tiram yang bergelombang dan macet.

Calon Pakatan Harapan untuk DUN Puteri Wangsa, Dr Maszlee Malik, turun langsung mengendarai sebuah Perodua MyVi dari Kampung Melayu Tebrau menuju Ulu Tiram untuk merasakan kondisi fisik jalan dan pola lalu lintas yang dikeluhkan masyarakat. Percobaan ini dimaksudkan agar ia memperoleh gambaran langsung soal jalan bergelombang dan titik-titik kemacetan yang sering dibahas warganet. Perjalanan itu dilakukannya sebagai respons terhadap tantangan netizen agar ia sendiri mengalami bagaimana kendaraan “melambung” ketika melintasi ruas yang bergelombang. Selain meninjau kondisi permukaan jalan, Maszlee juga memantau situasi arus kendaraan di jam-jam puncak.

Langkah menguji kondisi jalan

Maszlee memulai perjalanan dari kawasan Petron Kampung Melayu, lalu melalui Pandan dan Kangkar Tebrau hingga ke Ulu Tiram, sebelum kembali menuju pusat kota. Mengenai pengalamannya, ia mengungkapkan secara langsung tentang keadaan rute tersebut: “Kita bermula dari Petron Kampung Melayu melalui Pandan, Kangkar Tebrau sehingga ke Ulu Tiram sebelum berpatah balik menuju ke bandar bagi menyahut cabaran netizen yang meminta saya menaiki Myvi untuk merasai sendiri keadaan jalan.” Dalam pengamatan selama berkendara, mantan Menteri Pendidikan itu menilai permukaan jalan tidak rata di beberapa lokasi. Ia menggambarkan sensasi berkendara yang dialami: “Memang betul apa yang mereka katakan (jalan tidak sekata) dan rasanya seperti menaiki bot di Tanjung Surat, beralun-alun dan terhentak-terhentak akibat keadaan jalan,” ujarnya.

Penyebab kemacetan dan usulan penanganan

Menurut Maszlee, kemacetan di sejumlah titik seperti Taman Daya dan Taman Pelangi Indah terkait erat dengan pesatnya pembangunan yang tidak diimbangi peningkatan kapasitas jalan. Ia menekankan bahwa masalah infrastruktur jalan bukan perkara sepele dan memerlukan pendekatan terkoordinasi. Mengenai upaya perbaikan, Maszlee menyatakan optimisme bahwa kondisi ruas dapat diperbaiki, namun menekankan pentingnya kerja sama antarinstansi. Ia menegaskan perlunya kolaborasi dengan instansi teknis dan perencana kota: “Saya nampak perkara ini boleh diperbaiki, tetapi ia memerlukan kerjasama erat dengan Jabatan Kerja Raya (JKR), perancang bandar dan pelbagai pihak berkaitan.” Lebih jauh, pengalaman Maszlee di tingkat kementerian memberinya keyakinan bahwa proses penanganan masalah seperti ini dapat difasilitasi melalui perencanaan dan koordinasi yang tepat. Ia menuturkan: “Saya pernah berada di peringkat pusat dan kementerian, jadi saya faham bagaimana proses untuk menangani perkara-perkara seperti ini,” sambil menegaskan pentingnya menyerap aspirasi penduduk sebelum menentukan prioritas penanganan.

Konteks Pilihan Raya Negeri dan daftar calon

Kegiatan peninjauan ini berlangsung menjelang Pilihan Raya Negeri (PRN) Johor yang dijadwalkan berlangsung pada 11 Juli, dengan pengundian awal pada 7 Juli. Maszlee bertanding di DUN Puteri Wangsa yang menyaksikan persaingan lima penjuru. Calon yang bersaing di DUN Puteri Wangsa:

  • Nicholas Paul Vincent (Parti Bersama Malaysia)
  • Wang Wee Siong (Bebas/IND)
  • Dr Maszlee Malik (PH-PKR)
  • Rashifa Aljunied (MUDA)
  • Teow Chia Ling (BN-MCA)

Daerah pilihan raya ini memiliki 128,723 pemilih terdaftar, terdiri dari 128,525 pemilih biasa serta 198 pengundi anggota polis dan pasangan. Dalam konteks itu, isu infrastruktur seperti kondisi jalan dan kapasitas lalu lintas menjadi salah satu perhatian penting yang diangkat calon untuk meraih dukungan pemilih. Pengalaman berkendara yang dijalani Maszlee dimaksudkan bukan sekadar aksi kampanye, melainkan upaya memahami secara langsung keluhan warga agar solusi yang diusulkan nanti lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan perlunya dialog berkelanjutan dengan penduduk setempat untuk menyusun prioritas perbaikan sebelum merumuskan langkah konkret. Pengamatan lapangan seperti ini menyoroti bagaimana pertumbuhan kawasan yang cepat menuntut kebijakan perencanaan kota dan investasi infrastruktur yang seimbang, jika tidak ingin warga terus menghadapi kondisi jalan yang tidak rata dan kemacetan berulang.