Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum bisa menjadi andalan dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Kondisi cuaca dinilai membuat peluang pelaksanaan OMC dalam 10 hari mendatang sangat kecil.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan pemerintah kini menguatkan strategi pemadaman dengan mengandalkan operasi water bombing dari udara serta pengerahan pasukan darat. Kedua upaya itu akan dilakukan secara berkelanjutan, menurut pernyataan Menhut.
Penggunaan OMC Terbatas oleh Kondisi Cuaca
Pernyataan terkait keterbatasan penggunaan Operasi Modifikasi Cuaca menunjukkan bahwa intervensi teknologi tersebut saat ini tidak memungkinkan untuk dilaksanakan dalam jangka pendek. Penilaian itu menempatkan OMC sebagai opsi yang belum dapat diandalkan untuk menangani kebakaran di TNBTS dalam waktu dekat.
Fokus pada Water Bombing dan Pasukan Darat
Dalam menghadapi hambatan pelaksanaan OMC, pemerintah memilih memperkuat upaya pemadaman melalui water bombing dari udara dan pengerahan pasukan darat. Menhut Raja Juli Antoni menegaskan bahwa langkah-langkah ini menjadi prioritas sementara OMC belum dapat dijalankan. Upaya udara dan darat akan dijalankan secara berkelanjutan sesuai kondisi di lapangan.
Tekanan pada Penanganan Kebakaran di TNBTS
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan kawasan yang menjadi fokus penanganan kebakaran saat ini. Dengan adanya keterbatasan OMC, penguatan operasi di udara dan upaya lapangan diharapkan dapat membantu menekan penyebaran api dan mengelola risiko terhadap kawasan konservasi tersebut.
Pernyataan resmi dari kementerian menegaskan prioritas pemerintah untuk terus melakukan upaya pemadaman yang dapat dijalankan saat ini, sambil memantau perkembangan cuaca yang menjadi faktor penentu kemungkinan pelaksanaan OMC di masa mendatang.
Sampai saat ini, strategi pemadaman yang ditempuh pemerintah akan berfokus pada langkah-langkah yang memungkinkan dilaksanakan segera. Menhut Raja Juli Antoni menyoroti pentingnya keberlanjutan operasi pemadaman udara dan pengerahan personel di darat sebagai respons utama di tengah keterbatasan teknis lain.
