Somerset estate berdiri di samping stasiun kereta Nanu Oya, sebuah titik penting yang dibangun pada 1885 untuk mengangkut teh Dimbula ke Colombo. Somerset estate tetap menjadi salah satu perkebunan dataran tinggi paling mudah diakses dan sarat sejarah di kawasan itu, memadukan warisan lama dengan praktik modern.

Perkebunan ini menjaga tiga benang warisan: mesin dan keluarga yang berlanjut antar generasi, penerapan teknologi baru, serta standar kualitas yang konsisten. Hasilnya bukan sekadar relik masa lalu, melainkan usaha produksi yang terus berjalan sejak hampir 145 tahun lalu.
Warisan tanaman dan pengelolaan lahan
Sekitar separuh kebun di Somerset ditanami varietas China Jat yang merupakan keturunan tanaman teh pertama yang dibawa ke Ceylon pada abad ke-19. Varietas ini mencapai puncak kualitasnya selama Western quality season dari Januari sampai Maret, menghasilkan karakter teh yang masih mengingatkan pada masa awal budidaya teh di pulau itu.
Pemeliharaan warisan tidak berarti menolak perubahan. Lahan lainnya ditanami varietas lebih baru yang ditanam rapat agar lebih cepat matang. Penggunaan biochar sebagai amandemen tanah membantu mempertahankan air dan mengurangi ketergantungan pada input sintetis. Area yang tidak cocok untuk teh diubah fungsinya: pohon asli ditanam pada lereng curam, sementara kayu tumbuh cepat mengisi lahan yang tak dapat ditanami teh, sehingga lahan menganggur berubah menjadi sumber pendapatan.
Upaya konservasi juga terlihat pada koridor keanekaragaman hayati sepanjang 13-kilometre di sepanjang DAS Nanu Oya dan Agra Oya, yang dikembangkan bersama Wildlife and Nature Protection Society of Sri Lanka. Proyek ini menargetkan pemulihan 80 hectares hutan dengan rencana penanaman lebih dari 50,000 pohon asli.
Teknologi dan modernisasi pabrik
Perubahan paling nyata dapat dilihat sehari-hari. Sistem penimbangan digital menggantikan timbangan manual di lapangan, memberi catatan akurat tentang hasil pluk dan visibilitas langsung bagi manajemen terhadap volume panen harian, sehingga perhitungan penghasilan menjadi lebih transparan. Sistem berbasis cloud memantau ronde pemetikan, jadwal pemupukan, dan tekanan hama secara real time, sementara sistem serupa di pabrik melacak proses withering, rolling, fermentasi, pengeringan, dan pengelompokan yang memungkinkan penyesuaian cepat selama minggu-minggu sibuk Western quality season.
Inisiatif otomasi pabrik ini bagian dari program yang dijalankan TTE PLC di kelima belas lahannya. Di lereng tercuram, Somerset telah mulai menggunakan drone untuk penyebaran pupuk, menggantikan cara manual dan penyebaran dengan traktor. Penerapan udara ini memangkas pemborosan, mengurangi tenaga kerja pada medan sulit, dan menurunkan risiko pemadatan serta erosi tanah.
Produk, pasar, dan pengakuan
Somerset memperkuat pengalaman pengunjung dengan membuka Somerset Tea Boutique di Nanu Oya di bawah merek Somerset TeaTel. Tempat ini menawarkan kesempatan mencicipi teh hitam segar dari kebun, milk tea klasik, dan paket single-estate, serta tur kebun yang memperlihatkan proses pemetikan dan produksi secara langsung. Selama Western quality season, lokasi ini juga menjadi tujuan pembeli internasional, khususnya dari Jepang, yang datang setiap tahun untuk memilih teh musiman.
Reputasi kualitas Somerset tercermin pada harga lelang: record sebelumnya di Rs. 2,600 per kilogram pada 2022, lalu pecah lagi pada Maret 2025 ketika satu lot terjual seharga Rs. 3,050 per kilogram—harga tertinggi yang pernah dibayarkan untuk teh jenis tersebut dari wilayah itu. Pada tahun yang sama, Somerset memperoleh posisi Runners-Up untuk Outstanding Tea Producer di ajang Tea Exporters Association Awards.
Produk Somerset juga dipasarkan ke berbagai negara melalui jaringan perusahaan induk, termasuk pasar Inggris, Jerman, Timur Tengah, AS, dan China.
Energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan sumber daya manusia
Somerset memanfaatkan lanskapnya untuk sumber energi: TTEL Somerset Hydro Power memanfaatkan DAS Kotmale Oya dan Nanu Oya melalui instalasi 1,100 kW yang menghasilkan 3,622,254 kWh di FY2025/26 pada kapasitas 95 persen. Tenaga hidro ini memasok kebutuhan perkebunan dan juga menyumbang ke jaringan listrik nasional sebagai bagian dari komposisi energi terbarukan TTE PLC sebesar 87 persen, sekaligus menjadi sumber pendapatan yang independen dari harga teh.
Bersama Coca-Cola Foundation, Janathakshan, dan Neptune Recyclers, perkebunan menjalankan ECO Material Collection and Processing Centre untuk mengumpulkan dan memproses sampah PET dari area sekitar. Pusat ini berjalan sepenuhnya dengan listrik hidro dan membuka lapangan kerja, khususnya bagi perempuan dan pemuda.
Sejak awal penanaman teh pada 1880, perjalanan kepemilikan Somerset mengalami beberapa pergantian—dari swasta ke kendali korporat, lalu dikelola negara pada 1972, diprivatisasi pada 1992 dan masuk ke Talawakelle Tea Estates PLC sebelum diakuisisi Hayleys Plantation Services pada 1998 dan tercatat di Colombo Stock Exchange pada 2000. Mesin pabrik yang masih dipakai berumur sekitar 140 tahun, dan beberapa keluarga pekerja telah melanjutkan tradisi turun-temurun hingga lima generasi. Saat ini 440 orang melanjutkan produksi dan menjaga budaya kerja yang menjadi kekuatan Somerset sejak dulu.
Hingga kini, Somerset estate tetap beroperasi sebagai perkebunan yang menemukan cara baru menghidupkan warisan lama—memadukan tradisi, inovasi, pasar internasional, dan perhatian pada lingkungan dalam satu lanskap hidup.
